Pustaka Belajar

  • Home
  • Seni
  • Perpustakaan
  • Opini
  • Kontak
  • Home
  • Downloads
    • Buku
  • Kategori
    • Child Category 1
    • Child Category 2
    • Child Category 3

Thursday, October 19, 2017

A Tale of two cities - Charles Dickens

 Pustaka Belajar     5:29 PM     A Tale of two dickens, book, charles dickens     No comments   

A Tale of Two cities - Charles Dickens
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Lord Of The Flies - William Golding

 Pustaka Belajar     5:19 PM     Lord Of the Flies, william golding     No comments   

Lord Of The Flies karya William Golding merupakan Novel yang mendapatkan penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1983. pembahasan dalam novel ini mengangkat tentang kebudayaan diciptakan dari kegagalan manusia.
sayangnya buku ini belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. tapi bagi para pembaca yang berminat membacanya, silahkan klik 'download' di bawah. terima kasih
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

37 Masalah Populer - H. Abdul Somad Lc., MA.

 Pustaka Belajar     3:07 PM     No comments   

37 Masalah Populer - H. Abdul Somad Lc., MA.
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Wednesday, October 18, 2017

Dunia Sophie - Jostein Gaarder

 Pustaka Belajar     1:59 AM     dunia Sophie, jostein gaarder     No comments   

Dunia Sophie - Jostein Gaarder
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Analisis Kebudayaan

 Pustaka Belajar     1:52 AM     analisis kebudayaan     No comments   

Analisis Kebudayaan
Download this File
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

36 Strategi Suntzu

 Pustaka Belajar     1:46 AM     36 strategi suntzu, buku     No comments   

36 Strategi Suntzu
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Detik-Detik Hidupku Hasan Al-banna

 Pustaka Belajar     1:41 AM     bigrafi, buku, Detik-detik hidupku, hasan al-banna     No comments   

Detik-detik Hidupku Hasan Al-Banna
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sketsa The Anthology Of Love

 Pustaka Belajar     1:37 AM     buku, Sketsa The Anthology of love     No comments   

Sketsa The Anthology Of Love
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Mantra - Deddy Corbuzier

 Pustaka Belajar     1:32 AM     buku, Deddy Corbuzier, Mantra     No comments   

Mantra - Deddy Corbuzier
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Che Guevara & Revolusi Kuba - Mike Gonzalez

 Pustaka Belajar     1:28 AM     buku, Che Guevara, Revolusi kuba     No comments   

Che Guevara & Revolusi Kuba - Mike Gonzalez
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

La Tahzan - DR. 'Aidh al-Qarni

 Pustaka Belajar     12:26 AM     buku, La tahzan     No comments   

La Tahzan - DR. 'Aidh al-Qarni
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Filosofi Kopi - Dewi Lestari Dee

 Pustaka Belajar     12:15 AM     buku, Filosofi kopi     No comments   

Filosofi Kopi - Dewi Lestari Dee
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Monday, October 16, 2017

The Secret - Rhonda Byrne

 Pustaka Belajar     11:26 PM     buku, rhonda byrne, the secret     No comments   

The Secret - Rhonda Byrne
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Madilog - Tan Malaka

 Pustaka Belajar     11:17 PM     buku, madilog, tan malaka     No comments   

Madilog - Tan Malaka
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Terpesona di Sidratul Muntaha - Agus Mustofa

 Pustaka Belajar     11:10 PM     agus mustofa, buku, terpesona di sidratul muntaha     No comments   

Terpesona di Sidratul Muntaha - Agus Mustofa
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sejarah Tuhan - Karen Armstrong

 Pustaka Belajar     10:58 PM     buku, karen armstrong, sejarah tuhan     No comments   

Sejarah Tuhan - Karen Armstrong
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Akar (Supernova) - Dee Lestari

 Pustaka Belajar     9:47 PM     buku, pdf, supernova     No comments   

Akar (Supernova) - Dewi Lestari Dee
Download

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

4 Daftar buku yang dipublikasi oleh Bibliotek Alexandria.

 Pustaka Belajar     2:49 AM     bibliotek alexandria, buku     No comments   


Daftar Buku Dari Bibliotek Alexandria (Iskandariyah - Bibliotecha Alexandrina) diambil dari situs resmi Perpustakaan Alexandria, jantung dan pusat Bibliotek Alexandria ini telah memberi ruang bagi pencari pengetahuan. Selain Perpustakaan Utamanya, terdiri dari enam perpustakaan khusus: Perpustakaan Seni dan Multimedia, Perpustakaan Taha Hussein untuk tuna netra, Perpustakaan Anak-anak, Perpustakaan Kaum Muda, Bagian Pertukaran dan Arsip, dan Bagian Buku Langka. Perpustakaan lain, Perpustakaan Francophone, didirikan setelah menerima sumbangan buku besar-besaran dari British National Formulary.







Video Art is Hypatia
Download


Architecture For A Changing World
Download



Al-Azhar Declaration on the future Egypt
Download





Bibliotecha Alexandrina Seven International Biennale for Artist's Book
Download



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Senja, Hujan & Cerita yang telah usai - Boy Candra

 Pustaka Belajar     1:11 AM     boy candra, buku, novel, senja hujan dan cerita yang telah usai     No comments   

Senja, Hujan & Cerita yang telah usai - Boy Candra
Download

Buku ini saya persembahkan untuk orang-orang yang pernah dilukai, hingga susah melupakan. Untuk orang-orang yang pernah mencintai, tapi dikhianati. Juga yang pernah mengkhianati, lalu menyadari semua bukanlah hal baik untuk hati. Kepada orang yang jatuh cinta diam-diam, suka pada sahabat sendiri, tidak bisa berpaling dari orang yang sama, dan hal-hal yang lebih pahit dari itu. Saya pernah ada di posisi kamu saat ini. Mari mengenang, tapi jangan lupa jalan pulang. Sebab, setelah tualang panjang ke masa lalu, kamu harus menjadi lebih baik. Dan, mulailah menata rindu yang baru.

Katakan kepada masa lalu: kita adalah cerita yang telah usai. 
Sumber : MediaKita
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sunday, October 15, 2017

Art of Drawing The Human Body (Fine Art)

 Pustaka Belajar     1:34 PM     anatomy, art, books, buku, fine art     No comments   

Art of Drawing The Human Body (Fine Art)
Publisher : Sterling Publishing Co., Inc.
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

The Adventures Of Sherlock Holmes (Versi Bahasa Indonesia) - Sir Arthur Conan Doyle

 Pustaka Belajar     1:21 PM     buku, FIksi, novel, Sherlock Holmes     No comments   

The Adventures Of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Download

Petualangan Sherlock Holmes adalah kumpulan dua cerita pendek oleh Arthur Conan Doyle, yang menampilkan detektif fiktifnya Sherlock Holmes. Ini pertama kali diterbitkan pada tanggal 14 Oktober 1892; cerita individu telah diserialkan di Majalah The Strand antara bulan Juli 1891 dan Juni 1892. Cerita-cerita itu tidak dalam urutan kronologis, dan satu-satunya karakter yang sama untuk semua belas adalah Holmes dan Dr. Watson. Cerita-ceritanya terkait dalam narasi orang pertama dari sudut pandang Watson.

Secara umum cerita dalam The Adventures of Sherlock Holmes mengidentifikasi, dan mencoba untuk memperbaiki, ketidakadilan sosial. Holmes digambarkan sebagai menawarkan rasa keadilan yang baru dan lebih adil. Cerita-cerita itu diterima dengan baik, dan mendorong tokoh-tokoh langganan The Strand Magazine, mendorong Doyle untuk dapat meminta lebih banyak uang untuk rangkaian cerita berikutnya. Kisah pertama, "Skandal di Bohemia", termasuk karakter Irene Adler, yang, meski hanya ditampilkan dalam cerita satu ini oleh Doyle, adalah tokoh penting dalam adaptasi Sherlock Holmes modern, yang umumnya merupakan cinta untuk Holmes. Doyle memasukkan empat dari dua belas cerita dari koleksi ini dalam dua belas kisah favorit Sherlock Holmes-nya, dengan memilih "Petualangan dari Band Terberat" sebagai favoritnya secara keseluruhan.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Gadis Pantai - Pramoedya Anata Toer

 Pustaka Belajar     12:17 PM     gadis pantai, novel, pdf, pram, pramoedya ananta toer     No comments   

Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer

Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Bumi Cinta - Habiburrahman El-Shirazy

 Pustaka Belajar     11:17 AM     bumi cinta, novel     No comments   

Bumi Cinta - Habiburrahman El-Shirazy
Download

Apa jadinya, jika seorang santri salaf, bernama Muhammad Ayyas, hidup di negeri paling menjunjung tinggi seks bebas dan pornografi, yaitu Rusia? Akankah iman dan kehormatannya dipertaruhkan demi memenuhi hasrat duniawi nonik nonik muda Moskwa, yang kecantikannya tiada tara?

Sumber : GoodReads
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Metodologi Penelitian - Prof.Dr. Suryana, M.Si

 Pustaka Belajar     4:22 AM     metodologi penelitian, proposal penelitian, skripsi     No comments   

Metodologi Penelitian - Prof.Dr. Suryana, M.Si
Download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua - Boy Candra

 Pustaka Belajar     4:05 AM     No comments   

Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua - Boy Candra
Download

Resensi buku :
Puisi merupakan satu genre tulisan yang selama ini terkesan ‘berat’. Tidak bisa dipungkiri, puisi merupakan bacaan minoritas. Hal ini disebabkan oleh kesan yang ditampilkan selama ini puisi adalah bacaan ‘berat’. Dengan kesadaran demikian, akhirnya menjadi tantangan tersendiri untuk menulis puisi yang lebih ringan. Puisi yang bisa dinikmati oleh semua orang. Terutama remaja dan dewasa muda. 
Sumber : Googlebooks
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sebelas Patriot - Andrea Hirata

 Pustaka Belajar     3:55 AM     andrea hirata, buku, novel, Sebelas Patriot     No comments   

Sebelas Patriot - Andrea Hirata
Download

Sebelas Patriot adalah kisah yang menggetarkan dan sangat inspiratif tentang cinta seorang anak, pengorbanan seorang Ayah, makna menjadi orang Indonesia, dan kegigihan menggapai mimpi-mimpi.

Novel Sebelas Patriot adalah karya yang unik karena untuk mendapatkan seluruh impresi secara utuh dari karya ini mesti pula mendengarkan tiga buah lagu yang lirik dan aransemen musiknya diciptakan Andrea Hirata. Lagu-lagu tersebut berjudul “PSSI Aku Datang”, “Sebelas Patriot”, dan “Sorak Indonesia”.

Novel dan lagu-lagu tersebut adalah satu kesatuan karya. Novel ini dilengkapi dengan CD berisi tiga lagu tersebut. Andrea Hirata menyebut lagu-lagu itu sebagai puisi yang dinyanyikan dan semangat yang didendangkan. Pengalaman Andrea Hirata menciptakan lagu dimulai dengan menciptakan lagu “Cinta Gila” untuk soundtrack film berdasarkan novel keduanya, Sang Pemimpi. Lagu tersebut dipopulerkan oleh Band Ungu dan terpilih sebagai The Best Soundtrack pada Indonesia Movie Award 2009. Sumber: Goodreads

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Setelah Hujan Reda - Boy Candra

 Pustaka Belajar     3:50 AM     boy candra, buku, novel, setelah hujan reda     No comments   

Setelah Hujan Reda - Boy Candra
Download

Hujan pernah merebut seseorang dariku. Ia merampas kebahagiaan yang tumbuh di dadaku. Ia memaksa aku menjadi sendiri.
Hujan juga pernah membuat janji kepadaku. Ia tak akan jatuh lagi di mataku. Namun ia berdusta, ia meninggalkan aku tanpa permisi.

Saat aku merasa hujan hanya datang untuk menyakiti, kamu hadir. Mengajarkan aku bahwa Tuhan tak menciptakan hujan untuk bersedih, tetapi Ia menyiapkan hujan untuk merasa kita pulih.

Aku sadar, terkadang orang yang kita cintai diciptakan Tuhan bukan untuk dimiliki, tetapi aku ingin Tuhan menciptakanmu untuk memilikiku.
Sumber : Google Books
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowling (Versi Bahasa Indonesia)

 Pustaka Belajar     2:58 AM     buku, Harry Potter, novel     No comments   

Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowling
download
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Hujan - Tere Liye

 Pustaka Belajar     2:00 AM     buku, hujan, novel, Tere liye     No comments   

Hujan - Tere Liye
Download

Tentang Hujan, Tentang Cinta, Tentang Melupakan, Tentang Perpisahan, Tentang Hujan.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sang Pemimpi - Andrea Hirata

 Pustaka Belajar     12:49 AM     buku, sang pemimpi     No comments   

Sang Pemimpi
Download

Sang Pemimpi adalah novel kedua dalam tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada Juli 2006. Dalam novel ini, Andrea mengeksplorasi hubungan persahabatan antara Ikal dan Arai serta kekuatan mimpi mereka yang dapat membawa dua anak kampung dari Belitong ini bersekolah di Perancis.
Dalam novel Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita tentang kehidupannya di Belitong pada masa SMA. Tiga tokoh utama dalam karya ini adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal tidak lain adalah Andrea Hirata sendiri, sedangkan Arai adalah saudara jauhnya yang menjadi yatim piatu ketika masih kecil. Arai disebut simpai keramat karena dalam keluarganya ia adalah orang terakhir yang masih hidup dan ia pun diangkat menjadi anak oleh ayah Ikal. Jimbron merupakan teman Arai dan Ikal yang sangat terobsesi dengan kuda dan gagap bila sedang antusias terhadap sesuatu atau ketika gugup. Ketiganya melewati kisah persahabatan yang terjalin dari kecil hingga mereka bersekolah di SMA Negeri Manggar, SMA pertama yang berdiri di Belitung bagian timur.
demi memenuhi kebutuhan hidup, Ikal dan Arai harus bekerja sebagai kuli di pelabuhan ikan pada dini hari dan pergi ke sekolah sete. Namun begitu, mereka tetap gigih belajar sehingga selalu berada dalam peringkat lima teratas dari 160 murid di sekolahnya. Sekolah mereka merupakan SMA negeri pertama yang bergengsi di Belitong, sebelumnya satu-satunya SMA yang terdekat berada di Tanjung Pandan. Sekolah tersebut berada 30 kilometer dari rumah Ikal dan Arai sehingga mereka harus menyewa kamar dan hidup jauh dari orang tua.
Selama masa SMA, banyak kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh Arai dan Ikal. Mereka pernah mengejek Pak Mustar saat upacara bendera di pagi hari sehingga Pak Mustar marah dan mengejar mereka. Mereka juga pernah menyusup ke bioskop yang tidak mengizinkan anak sekolah masuk untuk menonton film dewasa. Pak Mustar mengetahui hal tersebut sehingga Arai dan Ikal diberi hukuman keesokan harinya.
Pada akhirnya, Jimbron harus berpisah dengan Ikal dan Arai yang akan meneruskan kuliah di Jakarta. Selama di Jakarta, mereka luntang-lantung mencari pekerjaan namun akhirnya Ikal menjadi pegawai pos dan Arai pergi ke Kalimantan untuk bekerja sambil kuliah. Ikal berhasil membiayai kuliahnya di Universitas Indonesia hingga menjadi Sarjana Ekonomi, sedangkan Arai belajar biologi di Kalimantan. Hidup mandiri terpisah dari orang tua dengan latar belakang kondisi ekonomi yang sangat terbatas namun punya cita-cita besar, sebuah cita-cita yang bila dilihat dari latar belakang kehidupan mereka, hanyalah sebuah mimpi.
Sumber : Wikipedia
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Saturday, October 14, 2017

World Of Writing - Share of Experience

 Pustaka Belajar     5:45 PM     cara menulis opini, menulis artikel, Menulis Opini, menulis.     No comments   

dalam membincang dunia tulis menulis, maka yang perlu di pahami terlebih dahulu adalah apa arti dalam menulis. menulis adalah menyampaikan ide/gagasan, saran, kritik dalam bentuknya yang berbeda (verbal), disampaikan secara sistematis dan biasanya setelah melewati proses perenungan yang panjang dan mendalam. Bahasa menulis dengan bahasa pembicaraan akan jauh berbeda, karena menulis taat pada asas kepenulisan yang harus dipatuhi secara rigid, objektif, sedangkan bahasa pembicaraan tak mesti sekaku dan serigid jagat literasi tulis. Menulis juga merupakan arena aktualisasi dan aksentuasi diri dalam menangkap, merespon dan bahkan mengelaborasi suatu fenomena yang dianalisa secara subjektif-objektif dengan tetap mengacu pada kaidah-kadiah yang telah disepakati bersama (penggunaan EYD, saduran, istilah-istilah asing, dan sebagainya). Menulis, bagi seorang penulis, merupakan aktifitas alamiah yang harus dipenuhi sebagai bagian yang bisa menunjang aktifitas kehidupannya.

Ada peribahasa mengatakan, 'gajah mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebaikan (karya)'. Eksistensi manusia akan dirasakan ketika manusia tersebut memberikan kontribusi bagi manusia lainnya. Pemberian kontribusi itu bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, yang salah satunya dengan menulis. Sebuah tulisan yang didasari dengan hati, ditujukan untuk kebaikan, tentu akan menjadi pemantik-pemantik kebaikan dan bukan mustahil, menjadi titik acu terjadinya sebuah perubahan. Anda mungkin kurang sadar atau bahkan tak menyadarinya sama sekali bahwa menulis bisa menjadi instrumen propaganda ekonomi dan politik, bisa memasukkan penjahat dari kelas teri sampai kakap ke dalam jeruji besi, bahkan meruntuhkan sebuah bangunan rezim pemerintahan yang sedang berkuasa.

Bahkan seseorang bisa dibunuh karena tulisannya. Berbalik dengan itu, seseorang bisa menjadi staf ahli anggota DPR, staf ahli presiden, bahkan dikirim ke luar negeri karena tulisannya. Intinya, tulisan di arus modernisasi seperti sekarang ini tak hanya sekadar aktifitas sambil-lalu, pengisi waktu luang, atau karena tuntutan karier. Lebih dari itu, menulis merupakan bagian fundamental sebagai instrumen untuk memotret, menyimpan, dan mengkodifikasikan sejarah yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan generasi penerus kelak.

menulis, terlepas dari motivasi yang mengiringinya, apakah tujuannya pragmatis, idealis, atau konvergensi keduanya, idealis-pragmatis, sepanjang dilakukan untuk perbaikan-perbaikan dan konstruktif, insya Allah akan berimplikasi pada pemberdayaan dan pencerdasan bagi pembacanya. Menulis bisa menjadi semacam berbagi pengetahuan dan dialog pasif dengan calon pembaca yang bermuara pada pendayagunaan dan pencerahan-pencerahan. Itulah salah satu kebahagian seorang penulis, ketika tulisannya dibaca banyak orang, direspons, apalagi kalau bisa memperbaiki keadaan.

Artikel, dalam Kamus Ilmiah populer dijelaskan sebagai karangan yang dimuat di media massa. Artikel opini, sepanjang yang saya pahami, merupakan penuangan berbagai ide atau gagasan yang merupakan hasil dari analisa berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi dalam bentuk tulisan, dan dipublikasikan di media massa cetak maupun online, dengan menggunakan bahasa semi-populer. Tujuan menulis artikel yakni memberikan pemahaman atau pencerahan kepada semua entitas masyarakat mengenai berbagai persoalan, seperti hukum, ekonomi, politik, sosial, keagamaan, budaya, dan sebagainya.

sekarang jika tulisan artikel merupakan analisa dari suatu peristiwa/keadaan/kejadian, bagaimana caranya menangkap dan menghadirkan ide tulisan artikel? Menurut pengalaman saya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

yang pertama, perbanyak membaca. Aktifitas baca-tulis menjadi dua hal yang saling berkelindan, memisahkan keduanya adalah hampir mustahil dengan tidak menyebut impossible. Ide bisa lahir setelah membaca, gagasan bisa bermunculan pasca bergelut dan bertarung dengan buku. Mengenai membaca ini, saya sendiri kalau sudah gila dalam kuantifikasi waktu, bisa sampai 3-6 jam/hari, atau 2-3 buku perminggu. Selain buku, atau minimal 1 majalah perminggu.
kedua, konsisten berdiskusi. Membaca bukan satu-satunya jalan untuk melahirkan banyak gagasan sebagai temuan tulisan, berdiskusi merupakan program lanjutan yang harus dilakukan secara reguler. Dengan berdiskusi, Anda bisa menguji tulisan yang telah dibuat untuk dibantai oleh kawan diskusi. Dan itu, jalan yang konstruktif sebelum Anda mempertanggungjawabkan tulisan tersebut ke publik.
ketiga, buka hati dan pikiran anda untuk bisa peka dengan keadaan yang terjadi di lingkungan sekitar, luangkan waktu untuk menonton berita dalam dan luar negeri.
Tanamkan sense of intellectual dengan jalan banyak melakukan analisa dari berbagai fenomena yang terjadi.
dan yang terakhir, banyak bergaul dengan google, untuk searching berbagai hal sehingga secara langsung maupun tidak langsung ide-ide tulisan artikel bisa dimunculkan atau bahkan muncul dengan sendirinya.
Setelah ide-ide tersebut terkumpul  dalam note, langkah berikutnya lakukan manajemen ide untuk memudahkan memilah topik mana dulu yang akan ditulis terlebih dahulu.

Setelah dipastikan paham cara-cara menjaring ide, langkah berikutnya mulai untuk menulis. menulis itu ibarat berenang, sampai kapanpun tak akan bisa jika hanya belajar dan memperdalam teori tanpa ada niat untuk memulai menulis. dalam konteks menulis opini, tahapan berikutnya yakni mulai menuliskan ide/gagasan tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut:

pertama-tama, Tentukan topik yang akan diangkat dalam tulisan. Bisa juga diartikan dengan menentukan judul yang lebih sempit dari tema. Misalnya, tema yang akan diangkat 'seputar UKT di Universitas Negeri Makassar', Anda bisa menentukan judul: 'Mampukah UNM Bersaing?', atau 'UKT dalam kacamata Mahasiswa'.
kedua, buatlah kerangka karangan. meski tidak wajib namun cukup membantu, terutama bagi yang masih belajar menulis opini. kerangka itu bisa berupa judul yang menarik, sub-sub judul untuk memudahkan berfikir secara sistematis dan menjaga supaya pembahasan tak melebar kemana-mana.
ketiga, tulislah analisa yang akan anda bahas dalam tulisan tersebut. dalam hal ini Anda bisa membedahnya dengan teori-teori yang relevan, dan atau melegitimasinya dengan statement orang lain yang dianggap mempunyai kredibilitas mumpuni dan sesuai dengan topik yang tengah Anda kembangkan.
ketiga, susun kalimat pembuka secara tak berlebihan, tak bertele-tele, dan fokuskan perhatian Anda pada substansi dimana memuat analisa yang akan dikembangkan.
dan yang keempat, Rangkai kalimat penutup secara elegan dan usahakan pembaca akan terkesan. Misalnya, ketika tulisan anda sedang membahas tema sosial-politik yang menimbulkan ironi, maka bisa diakhiri dengan sebuah pertanyaan bernada satire, misalnya, 'dimana nurani biroktat kampus, disaat banyak mahasiswa menderita atas ketimpangan UKT, mereka malah asyik dengan rencana kenaikan gaji, pembangunan gedung baru, bahkan jalan-jalan keluar negeri berdalih studi banding?'

nah, mungkin itulah beberapa pengertian-penjelasan dan kiat-kiat kepenulisan yang semoga memberikan pengaruh dan bermanfaat bagi para pembaca.

catatan : jika disuatu saat anda mendapatkan honor dari tulisan yang dimuat dalam media cetak seperti koran atau bahkan dari menerbitkan buku, yang perlu anda tanamkan adalah menulis bukan semata-mata dimaksudkan untuk serta-merta anda harus berpikir pragmatis, dan menulis untuk mendapatkan uang, tapi tujuan menulis harus lebih mulia dari itu, bertindak dan bersikap kritis dan cerdas dalam memberikan kontribusi intelektual dan pencerdasan bagi masyarakat umum. Kalaupun mendapat honor, anggap saja sebagai bonus.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Friday, October 13, 2017

Monolog diri.

 Pustaka Belajar     5:38 AM     Sampingan, Tak Berkategori     No comments   

Tidak ada yang baru di bawah matahari. Ya, kita tak lagi bisa mengklaim kebaruan apapun, sebab kita tak pernah tahu apa yang sudah dan sedang terjadi di bagian bumi yang lain. Barangkali segala hal telah ditemukan dan segala sesuatu sudah pernah didefinisikan. Siapa yang tahu? Peradaban manusia timbul dan tenggelam, sementara sejarah terlalu samar sekaligus nisbi.

Ketika semua huruf sudah dikatakan dan semua kata sudah dikalimatkan, apa yang kini sedang kalian baca barangkali hanya bentuk lain dari sesuatu yang sejatinya sama atau sebelumnya pernah ada. Siapa yang tahu? Bahasa manusia begitu kaya untuk kita mengerti seluruhnya, sementara gagasan-gagasan manusia bagai samudera luas yang teramat liar, misteri sekaligus selalu gagal disederhanakan.

Tugas kita memang bukan untuk ‘mencipta’., dalam pengertian sesungguhnya. Tidakk, kita tidakk mungkin bisa! Bahkan akal pengetahuan, sesuatu yang membedakan kita dengan binatang atau tumbuhan, itupun sepenuhnya pemberian Tuhan. Tidak ada yang benar-benar baru, kecuali ‘sintesis’, persinggungan-persinggungan terjauh yang sanggup kita reka dari residu peradaban manusia. Kita hanya bertugas ‘menyusun’ yang terserak: menyalakan kayu bakar yang sudah ada, dengan api yang juga sudah ditemukan., dengan udara yang, ah ya, sudah tersedia.

Demikianlah, sungguh, tak ada lagi kebaruan! Kita mendengar suara-suara samar dari sejarah peradaban manusia yang panjang, lalu kita rapalkan lagi kata-kata yang sebenarnya sudah pernah diucapkan manusia lainnya. Siapa yang tahu?

Barangkali, kalaupun orisinalitas itu ada, yang sungguh-sungguh baru bukanlah objeknya, tetapi subjek yang bersitatap dengannya. Juga konteks, bagaimana si subjek memperlakukan objek di hadapannya. Akhirnya, kreativitas manusia adalah soal bagaimana mereka memperlakukan objek yang ada di sekeliling dirinya dengan pendekatan yang lain., memberikan konteks baru bagi sesuatu yang sesungguhnya tak baru.

Ah ya, manusia memang tak pernah diberi tugas untuk ‘mencipta’ dari tiada menjadi ada. Tidak! Kita tak akan sanggup melakukannya. Manusia hanya diberi tugas untuk memahami ‘ada’ untuk mentransformasikannya menjadi ‘ada’ yang lain.

Pusing? Saya juga pusing! Sudah jam 11 malam rupanya. Dan saya mulai sulit membedakan khayalan dan kenyataan. Semua yang dibaca sejak tadi, jangan dimasukkan ke dalam pikiran, apalagi ke dalam hati. Tak usah menambah beban. Selamat malam dan bermimpilah yang indah. Sekian dan terima kasih sudah menemani saya meracau.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Wednesday, October 11, 2017

Sejarah Sepak Bola & Nasionalisme Kosmopolitan

 Pustaka Belajar     7:35 AM     Sampingan, Tak Berkategori     No comments   

Sepak bola bukanlah sekedar bola disepak, tapi telah menjadi fenomena kehidupan yang luar biasa, yang hanya dimiliki oleh umat manusia. Sejak dari level piala dunia sampai antarnegara yang terbatas, liga dalam satu negara sampai ke level lebih bawah, sepak bola telah menjelma seakan menjadi agama. Meminjam kerangka sosiolog Robert N Bellah (1967 dan 1992) tentang 'civil religion', sepak bola bukan tidak mirip dengan agama.


Lalu, apa sebenarnya yang membuat sepak bola menjadi begitu memabukkan dan penuh daya tarik? Ternyata semua itu tidak tercipta hanya karena dasar logika bisnis dan komersialisasi, besaran reputasi, ataupun sekedar mekanisme biotik yang terjadi. Sepak bola dapat mendudukkan dirinya menjadi pesaing agama karena adanya aspek emosi, yang berakar pada sejarah dan keterkaitan sosial budaya yang begitu kental membersamai.


Sang pemuja beserta manusia-manusia pembentuk lakunya, yang selalu berteriak, berpikir, bahkan saling mengkritik dan bersaing hegemonitas semu, atas tak adanya kesamaan ruang waktu. Sementara sang aktor yang bermain, bersorak, bergerak, dan berjuang dalam tetesan keringat. Satu tetesan bersama jutaan usaha, emosi, dan harapan yang tak sekedar dihasilkan oleh sang pemain, namun miliyaran pasang mata dan hati, yang merasakan kesamaan dari resonansi keunikan sepak bola.


Sementara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan baru bergulir 11 Juni kemarin, kejuaraan serupa sudah berakhir di Jalur Gaza sejak bulan lalu. “Piala Dunia” buatan ini hanya diikuti 16 tim, setengah dari yang berlaga di negeri Benua Hitam itu. Para peserta Piala Dunia di Gaza ini adalah Palestina, Inggris, Turki, Amerika Serikat, Italia, Rusia, Afrika Selatan, Irlandia, Mesir, Aljazair, Spanyol, Serbia, Jerman, Belanda, Prancis, dan Yordania.

Para pemain dari 16 kesebelasan itu berasal dari Liga Sepak Bola Gaza dan para pekerja asing di sana bersatu untuk menunjukkan semangat kerja sama internasional di Gaza. Ada yang tampak aneh dan memang sangat jarang terjadi di Gaza, bendera Amerika berkibar saat parade. Meski didera blokade Israel selama tiga tahun terakhir, sepak bola tetap hidup di Palestina, termasuk Gaza. Hobi sepak bola juga menjalar ke para pemimpin Hamas, termasuk mantan perdana menteri Ismail Haniyah dan Wakil Ketua Biro Politik di Damaskus, Suriah, Musa Abu Marzuq. Bahkan Haniyah pernah menjadi pemain sepak bola.

Saat digelar partai Amerika melawan Serbia, teriakan Amerika terdengar dari tribun stadion. Padahal negara itu bersama Israel selalu menjadi sasaran cacian warga Gaza. Dalam tiap unjuk rasa, bendera kedua negara itu selalu dibakar. Namun kali ini lain. Hisyam Rida, 26 tahun, yang rajin berdemo anti-Amerika dan Israel, malah mendukung Negeri Abang Sam. Tanpa sungkan ia mengibarkan bendera kecil Amerika di tangannya. “Saya tidak punya masalah dengan bendera ini karena sepak bola dimainkan antar-orang, bukan antar-pemerintah,” katanya.

Di partai puncak, Prancis bertemu dengan Yordania, disaksikan 20 ribu pasang mata. Tim dari Negeri Mode pada akhirnya menang dan berhak atas trofi yang diserahkan Ismail Haniyah. Piala itu terbuat dari besi rongsokan sisa gempuran Israel awal tahun lalu, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang, setengahnya anak-anak dan wanita. Meski pestanya imitasi, setidaknya warga Gaza telah merasakan atmosfer Piala Dunia.

Pesona nasionalisme gaya lama semacam itu kini kembali dirindukan. Umat manusia dapat bersatu tanpa batas negara. Jika pun pada akhirnya mereka harus berbeda dan berperang karenanya, semata karena dimensi tertinggi dari bangunan perbedaan itu sendiri, yaitu agama. Seperti halnya teknologi, sepak bola bisa menunjukkan pada kita bahwa dunia saat ini seakan menyusut dan dapat dijangkau dengan mudahnya. Di lapangan, kita bisa melihat batas dan identitas nasional seolah-olah disapu begitu saja ke dalam keranjang sampah sejarah sepak bola. Klub-klub terbaik yang bermaterikan pemain lintas negara kini berlaga hampir tiap minggu di turnamen yang juga lintas negara seperti Liga Champions atau Copa Libertadores.


Dalam sepakbola, pertentangan sejarah bisa masuk dalam keranjang sampah. Tata dunia baru ini sungguh menarik dan membuat orang menjadi antusias. Turnamen-turnamen ini tidak hanya menjadi mimpi indah seorang pecandu bola, namun juga hampir setiap masyarakat dunia. Ketika para pelatih mencoba mereka-reka paduan kultural dari daftar pemainnya, hasilnya kerap membuahkan tontonan baru yang menakjubkan. Gaya Italia yang sinis dan defensif disegarkan oleh pemain-pemain Belanda dan Brazil yang menggelandang seenaknya. Gaya kaku Inggris diperlunak sedikit oleh sentuhan kontinental, yang dibawa oleh pemain-pemain Perancis dari seberang kanal Inggris. Gaya dingin dan keras milik Eropa Timur dipadukan dengan kehadiran pemain benua hitam Afrika yang lincah dan pintar menangkap peluang.

Dari apa yang kita saksikan, sepakbola tampaknya jauh lebih akur dengan adanya eksperimen silang budaya––popoler disebut sebagai globalisasi––tersebut ketimbang sistem perekonomian dan politik manapun di muka bumi. Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 pun memanfaatkan keunikan sepak bola sebagai kesempatan untuk berkirim pesan optimisme hidup yang didasari oleh kekuatan persatuan. "Welcome to South Africa, the rainbow country, where black and white live in harmony in spite of our dark past".

Sebutan Afrika hitam adalah catatan masa lalu. Kenyataannya, penduduk di sini punya warna kulit hitam, putih, cokelat, kuning, semuanya ada. Afrika Selatan sekarang menjadi negeri pelangi. Pesan amat mulia ini tidak lagi tersirat, tapi secara tersurat mereka kemukakan melalui media yang sangat kreatif, mereka menggaungkannya melalui theme song Piala Dunia! Lagu yang menyeruak menjadi lantunan wajib pecandu bola seisi muka bumi ini mengandung makna yang amat dalam. Afrika selatan dengan sangat cerdik ingin mengatakan pada dunia bahwa kami adalah bangsa yang justru bangkit dan tetap hidup karena perjuangan di tengah penindasan, yang berawal dari diskriminasi kemanusiaan. Melalui “Wavin Flag”, semua catatan hitam kelam masa lalu, kini tinggal kenangan.


So we struggling, fighting to eat and
We wondering when we'll be free,
So we patiently wait, for that fateful day,
It's not far away, so for now we say

So many wars, settling scores,
Bringing us promises, leaving us poor,
I heard them say, love is the way,
Love is the answer, that's what they say,
But look how they treat us, Make us believers,
We fight their battles, then they deceive us,
Try to control us, they couldn't hold us,
Cause we just move forward like Buffalo Soldiers (
K'naan - Wavin Flag)


Sekitar 800 tahun, Yahudi berjaya di Mesir sebelum kemudian Fir’aun memaksa mereka untuk kembali ke tanah Palestina. Serbuan Nebukadnezar dari Babilonia dan beberapa abad kemudian oleh Romawi, memaksa Yahudi menyebar ke berbagai wilayah. Di Eropa selama berabad-abad mereka dalam tekanan karena dianggap bertanggungjawab atas kematian Yesus. Sementara dalam kekuasaan Islam Andalusia, Yahudi sangat berjaya. Namun kemudian, di awal abad ke-16, mereka dan warga Muslim dikejar-kejar dan dibantai di Spanyol. Begitupun pada abad ke-20, Hitler menggenapi tekanan hebat atas Yahudi.

Tidak ada bangsa yang harus hijrah dan dalam tekanan seberat Yahudi. Maka sunnatullah-nya, wajar bila kemudian mereka tumbuh menjadi bangsa yang kuat, walaupun kemudian menjadi semena-mena. Penjelajahan memang memberikan kekuatan, yang jika dipadukan dengan ketundukan, akan menghadirkan kemuliaan. Tapi Yahudi dalam urusan ini hanya mendapatkan kemenangan, tapi tidak untuk kemuliaan. Hijrah sebagai prinsip umum menjadi kunci pembangun kekuatan bangsa Yahudi.

Kebangkitan Cina sekarang antara lain juga merupakan hasil peran para Hoakiau atau Tianghoa perantauan. Sejarah panjang bangsa Han juga penuh dengan dinamika hijrah dan petualangan di daratan Asia, mulai dari ekspedisi Zhang Qian di abad ke-2 sebelum Masehi, hingga ekspedisi laut oleh Cheng Ho di abad ke-13. Pertumbuhan ekonomi India sekarang merupakan hasil dari diaspora warganya di seluruh dunia. Hampir tidak ada lembaga penting internasional, baik badan-badan PBB maupun korporasi, yang tanpa warga India. Masyarakat India dan Cina sekarang perlahan menjadi negara besar, karena mereka bergerak untuk menjadi warga dunia, dengan tetap menggenggam erat budaya sendiri.

Dalam sejarah masyarakat Quraish, arti penting hijrah dan ekspedisi untuk membangun kekuatan dan kemakmuran sudah ditunjukkan oleh Hasyim, moyang Nabi Muhammad SAW. Dari Syiria hingga Yaman merupakan wilayah jelajahan mereka. Nabi juga membangun kekuatan dan peradaban Islam melalui Hijrah di tahun 622 Masehi, dan disusul dengan ekspedisi-ekspedisi ke berbagai kawasan mulai dari Ethiopia, Romawi, Spanyol atau Andalusia, hingga Persia.

Dalam sejarah Nusantara, kekuatan dan kemakmuran juga dibangun dengan hijrah dan ekspedisi. Dimulai dari masa yang sangat lama, bahkan sebelum Sriwijaya yang di abad ke-8 sudah berdagang hingga Jepang. Majapahit dan kemudian kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai, Demak, Gowa hingga Ternate membangun peradaban dengan hijrah dan ekspedisi bisnis. Penjelajahan berbagai bangsa manusia terdahulu itu memang didasari oleh kesadaran tidak baku, tanpa nama, dan tanpa teori. Tapi kini, kita bisa menyebutnya sebagai sebuah usaha “eksperimen silang-budaya”, yang secara nyata menghasilkan kekuatan atau keistimewaan bagi pemiliknya.

Begitu halnya yang terjadi dalam sepak bola. Olahraga ini menjadi perhatian miliyaran pasang mata, padalah tidak semua masyarakat dunia menyukai atau bahkan memahami perhelatan ini. Demam sepak bola begitu dahsyat terjadi karena warga dunia disuguhkan tontonan menarik dimana dunia bersatu dan bisa padu dalam perbedaan. Seperti harkat dan martabat manusia penghuni Benua Hitam yang kini tidak lagi berisikan budak, tapi artis yang berharga begitu tinggi. Pantai gading misalnya, kini menjadi tim nasional urutan 9 di dunia yang memiliki deretan pemain dengan bayaran gaji termahal.

Semua berawal dari datangnya zaman millennium yang menjadi pengawal laju globalisasi pada tahun 2000-an. Seorang Nigeria bernama Erdward Anyamkyegh tiba di bandara Internasional Lviv, Ukraina. Tanda tangan kontraknya dengan klub lokal Ukraina sebagai kiblat sepak bola Eropa Timur, bisa digambarkan sebagai suatu pertanda zaman telah berlalu. Di masa itu, ramual kultural yang ganjil memang sedang merebak. Klub yang tak punya orang Afrika, khususnya Nigeria di dalamnya, dianggap tidak serius berkompetisi sepak bola. Pemilik klub yang tidak membeli pemain Nigeria bukanlah pemilik yang ambisius, begitu kenyataannya. Maka, kedatangan Edward di Ukraina lebih dari sebuah kontrak pembelian, lebih dari sebuah suntkan kecekatan seorang pemain Afrika dalam mengolah si kulit bundar, dan lebih dari sekedar kemahiran seorang pemilik klub dalam merangkai sebuah kesebelasan. Kedatangannya di Ukraina adalah eksperimen silang-budaya.

Keistimewaan itu semakin dapat kita temui dalam Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, yang menjadi generasi awal pembuka eksperimen silang budaya ini ––walaupun Perancis telah memulainya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saat memenangkan partai melawan Spanyol, Swiss kali ini dipimpin seorang kapten Muslim, yaitu Golkhan Ilner. Penyerangnya juga Muslim: Eren Derdiyok, begitu pula yang menggantikannya: Hakan Yakin. Ketiganya keturunan Turki. Di bangku cadangan masih ada dua Muslim keturunan Kosovo: Valon Behrami––yang bermain di klub besar Inggris, West Ham–– dan Xherdan Shaqiri.

Malam sebelumnya, saat Jerman melumat Australia 4 – 0 pun ternyata menyimpan fenomena menarik. Untuk pertama kalinya ada dua Muslim bermain dalam Tim Panser sekaligus, pertama Mesut Oezil yang keturunan Turki dan Sami Khedira yang keturunan Tunisia. Di bangku cadangan pun masih ada nama Muslim lainnya, Serdar Tasci. Oezil pun malam itu disebut-sebut sukses memainkan peran kapten Michael Ballack yang absen karena cidera.


Jerman, Belanda, Swiss, dan dimulai oleh Perancis, telah sukses mengawali sejarah baru hubungan antar manusia seisi dunia yang sebenarnya kembali pada gaya nasionalisme lama, yaitu diyakininya kosmopolitanisme dalam bentuk pemahaman “universalisme substantif”. Mereka percaya pada para pemain “berbangsa tanpa negara” itu untuk bersatu dalam tim nasionalnya karena kemampuan, keistimewaan, dan kehadirannya yang justru dapat membuat perbedaan.


Ada magnet kosmos (alam semesta) yang menghubungkan antara perisitwa dan individu manusia. Inilah yang disebut "kehendak zaman". Keadaan ini sebenarnya berawal dari kehendak semesta yang dibawa oleh manusia, dan saat semua bertemu, maka seluruh alam semesta akan bersatu untuk memastikan terjadinya momentum “kehendak zaman” itu. Kini, dengan teknologi hasil ciptaan (kehendak) manusia yang semakin gigantik, dunia akan semakin tidak mengenal batas ruang. Walaupun, kini cukup banyak manusia yang belum menyadari telah terjadinya “kehendak zaman” dalam bentuk interdependensi silang budaya, atau dalam bahasa populernya disebut globalisasi.

Permainan si kulit bundar dalam lapangan hijau pun akan bergerak mengikuti arah zaman. Tanda-tanda telah terjadinya kehendak zaman tersebut setidaknya dapat dilihat dari tenggelamnya klub eksklusif yang mengedepankan semangat rasisme seperti Paris Saint-Germain, Glasgow Rangers, dan Red Star Beograd. Transformasi Liga Premier Inggris dengan menempatkan banyak pemain lintas negara dan mampu menjadikannya liga terbaik dunia yang dulu dipegang oleh Serie A Italia. Dalam konteks lain, misalnya kemenangan Obama di tengah kebengisan Amerika, walau kita percaya Obama hanyalah topeng dan intrik cantik yang muncul sebagai pembeda. Insiden Mavi Marmara yang berisikan relawan lintas negara dan agama, hingga seluruh dunia membuka mata pada Palestina. Ketahanan Indonesia sebagai negara multikultural dalam menghadapi krisis keuangan global. Hingga pilihan politik PKS untuk merapat ke tengah dan keputusan Partai Demokrat dengan merekrut lawan politiknya dalam koalisi pemerintahan RI.

Lihatlah serpihan-serpihan peristiwa di atas dengan “kacamata substansi”. Terlepas dari kepentingan dan tujuan dari terjadinya peristiwa tersebut, substansi yang dapat disemai adalah mereka yang menjadi pemenang atau mendapatkan simpati dari sesama manusia lain adalah yang dapat mengindentifikasi titik tengah dalam pusaran kepentingan dan tarikan perbedaan.


Perbedaan pasti akan melahirkan kekuatan, kedinamisan, daya tahan, dan kreativitas. Namun menyadarinya tidak semudah menyulut konflik karena kehadirannya. Manusia baru akan sadar sepenuhnya akan “kearifan perbedaan”, saat dunia sudah terpolusi oleh usia. Barulah semua sadar akan banyaknya bangunan berbatas tembok yang terlewat tinggi menghalangi setiap sisi kemanusiaan. Kita semua akan kembali membela nasionalisme gaya lama dalam “taman sari internasionalisme” (kemanusiaan). Karena selama ini kita terjebak oleh batas negara, bukan pada susbtansi kehidupan antar manusia.

Dunia yang semakin tanpa batasan ruang (boundaryless) mengharuskan kita memahami keberadaan perbedaan. Begitu pula dalam sepakbola. Karena ternyata, kekelaman sejarah manusia dapat masuk dalam kantong sampah karena sepak bola. Mereka yang menjadi pemenang, mendapatkan simpati tertinggi pendukung seluruh dunia, adalah tim yang mampu memadukan nasionalisme dengan kosmopolitanisme, ku menyebutnya sebagai hibridisasi kemanusiaan.

Sementara, para pengecam sepak bola merasa yakin bahwa olahraga ini pada dasarnya berujung pada kematian dan kehancuran. Mereka berpendapat bahwa sepak bola membangkitkan identitas-identitas tribal yang seharusnya sudah sirna dalam dunia dimana globalisasi menjadi kehendak zaman baru. Saat emosi-emosi para pecandu sepak bola terus menggunung dan tak terbendung, mereka pun meledak dalam kekerasan ekstatis yang gelap dan kalap. Negeri kita dapat menjadi contoh nyata, jalur kereta api utara pulau Jawa menjadi saksi atas serangan para pengangguran kesetanan pencari identitas––sebut saja Jakmania Jakarta, Viking Bandung, Aremania Malang, Pasoepati Solo, Bonek Surabaya. Darah dan pecahan kaca menemani ratusan penumpang yang mencari kenikmatan dalam perjalanan. Bodoh, binatang, dan memalukan. War of foolish.

Tapi, banyak klub ataupun tim yang menyelematkan sepak bola dari kritik-kritik semacam itu. Terlalu banyak justru yang telah membuktikan bahwa fanatisme sepak bola melahirkan rasa cinta, persaudaraan, dan perdamaian kemanusiaan. Sepakbola berada pada sisi moderat, mampu merangkum perbedaan tanpa gesekan konflik. Tribalisme yang lebih sering berawal dari nasionalisme, dapat dipadukan dengan kosmopolitanisme yang teracik dan menghasilkan pertunjukan menarik. Seperti, setiap pemain yang dipanggil menjadi pemain tim nasional adalah mereka yang terbaik. Etnis tidak lagi menjadi kuasa, etnosentrisme tunduk, substansi sepak bola itu sendiri yang ditunjukkan dengan kompetensi yang pada akhirnya menjadi pendamai kepentingan. Mungkin kini, hanya dalam sepakbola kosmopiltanisme dapat bersatu padu dengan nasionalisme patriotik.

Internazionale mengawali gagasan ini dengan sangat berani. Sebelum tahun 1908 di kota Milan hanya ada satu klub sepakbola, Milan Cricket and Football Club. Namun pada malam tanggal 9 Maret 1908 berdirilah Internazionale Club Football of Milan yang memisahkan diri dari AC Milan. Para pendiri inter sebenarnya adalah anggota AC Milan yang bercita-cita untuk mendirikan sebuah klub yang universal. Sesuai dengan namanya, Inter menjadi klub pertama di Italia yang memperbolehkan pemain asing di luar Italia untuk memperkuat tim. Bahkan kapten pertama Inter, Mankti, adalah warga negara Swiss. Internazionale dengan eksperimen silang-budaya baru saja melahirkan sejarah baru, tim Itaia pertama yang meraih treble, dan sukses merengkuh piala Champions setelah 45 tahun hilang dari genggaman mereka.


Menariknya, filosofi Inter Milan itu hampir sama dengan memukaunya konsep milik klub Barcelona. Walau belum ada konfirmasi pasti akan kebenarannya, Barca ternyata sengaja memiliki warna seragam merah birunya dari triwarna Revolusi Prancis. Manuel Vasquez Montalban, seorang penulis kontemporer terbesar Spanyol, mengarang novel tentang Barca berjudul Offside. Ia gambarkan klub ini sebagai “senjata dahsyat dari sebuah bangsa tanpa negara. Kemenangan demi kemenangan El Barca ibarat kemenangan warga Athena atas Sparta”. Stadion Barcelona selalu dipenuhi oleh kaum perempuan dan anak-anak lebih dari stadion manapun di Eropa. Kaum imigran dari selatan Spanyol memadati pula stadion Barca. Mereka hendak mematutkan diri dengan Barca agar memudahkan asimilasi mereka dalam hidup kesehariannya di Katalunya.



Lebih hebat lagi, Barca bukan cuma menyelamatkan sepakbola dari para pengecamnya. Tapi Barca juga menyelamatkan konsep nasionalisme itu sendiri. Sepanjang akhir abad 20, pemikir-pemikir politik liberal mulai filosof Martha Nussbaum sampai arsitek-arsitek Uni Eropa menyalahkan nasionalisme sebagai penyebab sebagian besar malapetaka modernitas. Mereka mengutuk nasionalisme sebagai “tribalisme dalam samaran modern”. Bila kita menanggalkan keterpakuan pada identitas-identitas nasional ini, barulah kita bisa benar-benar melampaui etnosentrise, chauvinism, serta pertumpahan darah yang menjijikkan. Untuk mengganti nasionalisme, mereka usulkan agar kita menjadi kosmpolitan. Patriotisme dikandangkan, dan pranata-pranata serta hukum-hukum internasional diberlakukan pada pemerintahan.

Gambaran yang indah memang, namun tidak sepenuhnya realistis. Karena kehidupan modern justru ternyata membuka celah bagi manusia untuk lebih menghasratkan identitas kelompok, hanya kemasannya saja yang seakan individual. Maka, bangsa menjadi satu-satunya kendaraan yang memungkinkan impulse tersebut. Menyangkal hasrat ini berarti menyangkal watak dan martabat manusia. namun lagi-lagi, dalam sepak bola, patriotisme dan kosmopolitanisme bisa menyatu dan saling mengisi dengan hampir sempurna. Kita bisa mencintai negara kita sendiri––atau bahkan menganggapnya sebagai kelompok masyarakat unggulan––tanpa hasrat untuk mendominasi kelompok-kelompok masyarakat lain atau menutup diri dari pengaruh asing. Dan ini ternyata bukan sekedar teori dalam sepak bola. Inilah semangat yang dimiliki oleh sebuah klub bernama, Barcelona. Luarbiasa.

Namun, memang tidak semua eksperimen silang budaya mengisyaratkan perpaduan yang dapat menghadirkan kemenangan bersama. Globalisasi yang kita kenal justru menjadi alat berbentuk tameng untuk menyembunyikan kepentingan ekonomi, bisnis, politik, sosial budaya, bahkan agama. Persis seperti trilogi “Gold, Glory, Gospel”. Namun menurut pengkritik maupun pendukung ekspersimen silang-budaya atau lebih dikenal dengan bahasa globalisasi, budaya global seharusnya dapat menyapu bersih pranata-pranata lokal yang terlampau tradisional. Karena sebagai bagian dari jalinan masyarakat, sepak bola ternyata justru menjadi wahana pelestarian tradisi.

Begitupun dalam pertandingan antara Celtics dan Rangers di belahan bumi Skotlandia yang selalu menjadi hari-hari yang rawan gesekan. Pertikaian antara kedua seteru yang menghuni satu kota ini telah menghasilkan kisah-kisah horor persepakbolaan. Inilah perang yang belum tuntas antara Katolik dan gerakan reformasi Protestan. Di seluruh penjuru tribun, supporter Rangers mengibarkan panji-panji oranye untuk memperingati penggulingan monarki Katolik tahun 1688 oleh William of Orange (atau yang mereka sebut “Raja Billy”). Rangers kerap bernyanyi, “Halo, halo, kami ini Billy Boys”, yang mereka maksud adalah geng yang menghabisi umat Katolik Glasgow antara Perang Dunia pertama dan kedua. Billy Boys lah yang juga mendirikan cabang lokal Ku Kluk Klan pada tahun 1920-an.

Tapi setidaknya sepak bola memberikan jawaban bagi dunia, bahwa sejarah kelam bisa masuk keranjang sampah dan berbalas kesenangan hingga kegilaan miliyaran jiwa manusia. Etnisitas dan keyakinan antar manusia pun ternyata dapat tergadaikan oleh logika bisnis yang didasari oleh fanatisme pecandu sepak bola. Rangers dan Celtic ternyata tidak benar-benar melakukang peperangan bengis antar agama. Ini terlihat saat kubu Protestan bertempik sorak atas sebuah gol, mereka diprovokasi oleh kapten kesebelasan Lorenzo Amoruso ––seorang Italia berambut gondrong. Sambil menghentak-hentakkan tangan ia meminta mereka menyanyikan lagu-lagu anti-Katoliknya lebih lantang lagi. Namun ironisnya, ternyata Amoruso sendiri adalah seorang Katolik! Ini terjadi karena uang bisa membeli apa saja. Uang yang didasarkan atas emosi yang membentuk fanatisme dalam sepak bola. Sehingga kemudian, juara dan antusiasme pendukung lebih penting daripada kemurnian agama.

Eksperimen silang budaya yang sukses dibawa oleh sepak bola tersebut memang diawali oleh terjadinya resonansi yang berujung pada satu kata, yaitu emosi. Resonansi terjadi saat ada dua entitas berbeda yang menjalin kesamaan, dan bergetarlah mereka dalam frekuensi yang sama. Sementara emosi, satu hal dalam bahasan sepak bola yang memiliki sisi begitu menakjubkan. Maka, tidak tepat, jika sepak bola dibatasi dalam sempitnya ruang persepsi, yang hanya berarti besaran reputasi, bisnis dan komersialisasi, apalagi sekedar aktivitas fisik. Sungguh tak pantas. Karena, sepakbola telah memaknai dirinya sendiri, ialah sebuah resonansi emosi.

Referensi:
Foer, Franklin. 2006. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola.
Assegaf, Faisal, 2010 Tempo Interaktif.
Ukhrowi, Zaim. 2010 Resonansi Republika.


Ada kaitan sepak bola dengan pembataian Muslim Bosnia, dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga, dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan, dengan Zonisme maupun anti-Semitisme, dengan aksi-aksi hooligan Inggris, dengan keberadaan intelektual bawah tanah Italia berhaluan kiri pendukung Inter Milan, dengan falsafah Barcelona tentang konsep nasionalisme inklusif yang menggambarkan keterikatan warga dunia di atas kebebasan setiap manusia. Maka, sepakbola bukan sekedar olahraga. Sepak bola telah menjadi alat untuk memahami seluk beluk dunia kontemporer. Sepak bola juga mengajarkan pada kita agar bisa menempatkan diri di atas nilai-nilai universal kehidupan manusia seisi bumi.


Karena bola itu bundar, dan lapangan memiliki empat sudut yang ditutup dengan tribun berbentuk lingkaran. Sepak bola akan selalu 'bulat tanpa sudut', karena semua kemungkinan dapat terjadi tanpa sentuhan paksa ataupun kehendak individu manusia. Garis tepi hanya berarti di dalam lapangan, selebihnya sepak bola mengajarkan pada kita akan arti satu kesatuan tanpa fragmen sudut. Sepak bola mampu menjadikan manusia bersatu dalam tajamnya batas perbedaan pandangan, kepentingan, ras, sejarah, ekonomi, politik, budaya, bahkan agama.

Lalu, apakah Piala-Piala Dunia selanjutnya akan terus menjadi milik negara besar yang memberikan ruang lebih banyak bagi para pemain berbangsa tanpa batas negara? ––seperti Jerman, Belanda, Perancis, atau Inggris. Argentina dan Brazil sudah otomatis masuk hitungan, karena keduanya justru donor universal dalam eksperimen silang-budaya pemain sepak bola seluruh dunia. Atau bahkan akan berganti pada negara-negara semacam Portugal, Spanyol, Swiss, Kroasia, Amerika Serikat, dan Swedia yang telah sadar untuk memulai 'eksperimen tanpa sudut' dalam deretan pemain tim nasionalnya?

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Hero Recruitment

 Pustaka Belajar     5:45 AM     Tak Berkategori     No comments   


Bicara soal makna pahlawan dan kedaulatan, kadang menjadi kegiatan nostalgia belaka. kita sudah tak perlu lagi mengusung bambu runcing dan meneriakkan pekik Merdeka! sambil mengacungkan kepal ke udara. pahlawan dan perang cuma kita asosiasikan dengan kematian fisik, peperangan fisik, dan sesosok musuh bersama. sesuatu yang rasanya tak lagi relevan dengan kondisi kita sekarang, dan juga banyak tempat di dunia.



puluhan ribu pahlawan telah mati untuk bangsa ini, dan ada jutaan orang di seluruh dunia yang menyandang status pahlawan karena mereka telah mati untuk membela sesuatu. Namun, jika kita benar-benar jujur, pernahkah perdamaian sejati terwujud di muka Bumi? pada level intelektual, kita mampu merumuskan perdamaian, menyusun klasifikasi seorang pahlawan, bahkan mempabrikasi konsep kemerdekaan. namun pada level mental, jika kita benar-benar jujur, pernahkah perdamaian sejati terwujud dalam batin kita? Ada satu perang yang sudah ada sejak manusia ada, perang yang sesungguhnya, yakni perang melawan diri sendiri.


setiap saat kita memasuki ajang pertempuran. saat kita membuka majalah atau nonton tv, kita digempur dengan berbagai potensi perang batin. waktu kita melihat sesuatu yang kita suka atau tak suka, kita berkonflik antara mengejar dan menolak. seperti halnya perempuan-perempuan yang merasa terancam oleh keriput lantas berperang melawan penuaan dengan serum dan macam kosmetik kecantikan lainnya. perempuan yang percaya bahwa lebih putih berarti lebih cantik akan berperang melawan melaninnya dengan krim pemutih. melihat mereka yang lebih sukses dan lebih berpengaruh, kita lantas bertempur dengan keinginan dan hasrat untuk ikut lebih. setiap hari kita dijajah oleh keinginan baru, harapan baru, dan timbullah konflik baru. lalu, siapakah pahlawan yang kita harapkan untuk perang tak berkesudahan ini?


Menyimak film-film superhero, saya memperhatikan bahwa masyarakat dalam film-film itu digambarkan menaruh harapan tunggal mereka pada sang pahlawan, entah itu Batman, superman, atau spiderman. begitu ada kejahatan merangsak, mendadak polisi lemah, tentara terlambat datang, dan semua orang pun berharap cemas menanti superhero muncul.


Dalam kehidupan nyata, cerminan itu pun tak jauh berbeda. tak heran konsep seperti Ratu Adil atau Ksatria Piningit selalu laku, karena kita cenderung berharap ada tangan lain yang menyelesaikan masalah kita. kita menaruh harap pada PBB, pemerintah, parpol, dan tokoh-tokoh besar untuk menyelesaikan problem dunia. dalam interaksi pribadi pun demikian, kita berharap kitalah yang dimengerti, dipahami, agar problem selesai dengan sendirinya.


Namun, pernahkah kita merenungi, bahwa di jantung sebuah konsep besar bernama bangsa, suku, ras, agama, yang bersemayam sesungguhnya adalah individu-individu? Dan pada seorang individu, jika dilucuti satu per satu, kita akan bertemu dengan motor penggerak bernama ego? Ketika terjadi peperangan di mana pun, atas nama apa pun, sesungguhnya kita tengah menyaksikan peperangan antar ego, antar ‘aku’ yang masing-masing merasa paling penting.,.


Ribuan tahun sudah manusia diatur oleh aneka sistem moralitas, tapi perdamaian sejati baik di muka Bumi maupun di dalam batin tak pernah terwujud. sejak kecil saya diberi tahu bahwa bangsa indonesia terkenal rukun karena toleransi. Namun jika kita tilik ulang, toleransi yang kita kenal adalah : aku menghargai kamu selama kamu tidak mengganggu aku. kita tidak dibiasakan untuk apresiasi, yakni : aku menghargai kamu apa adanya. perdamaian yang kita kenal adalah perdamaian yang berbasiskan toleransi, bukan apreasiasi. perdamaian toleransi adalah perdamaian yang rapuh, karena diberlakukan syarat di sana. Saat syarat itu disinggung, si aku disinggung, perdamaian pun luruh seketika.


begitu jugalah kita kerap memberlakukan diri kita sendiri. menerima diri apa adanya merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Kita memberlakukan banyak syarat bagi diri kita: saya baru menyukai diri saya kalau ukuran tubuh saya sekian., saya baru pede, kalau saya naik motor merk anu., saya mau pindah jurusan ini, karena saya tidak cocok dengan jurusan itu. dan daftar syarat ini seolah tak ada ujungnya. Setiap hari kita menambah daftar baru. Setiap hari kita berperang dan bersitegang. Dan dalam perang yang satu ini, tak ada superhero yang akan datang dari balik awan untuk menyelesaikan konflik kita. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain diri kita sendiri.


inilah perang paling relevan dan selalu relevan dari ke zaman ke zaman. inilah ibu dari segala konflik yang ada di muka bumi. namun seringkali kita luput melihat hubungan antar aku yang di dalam dengan aku yang ada di luar, sehingga kita cenderung berpangku tangan dan terbuai dalam ketidakberdayaan kita. Kita sibuk mengutak-atik ‘aku’ yang di luar tanpa membereskan aku yang di dalam sumber konflik yang sesungguhnya.


Seorang pahlawan sejati dibutuhkan di sini. seorang pahlawan yang berani masuk ke dalam batin untuk menyingkap egonya sendiri. Seorang pahlawan yang berani ‘mati’,, demi perdamaian sejati. seorang pahlawan yang mau sejenak melangkah mundur dari jerat konflik eksternal dan memasuki arena pertempuran yang sesungguhnya. dan pahlawan ini akan bertempur tanpa imbalan jasa dan pengakuan apa-apa. tidak ada siapa-siapa di sana. namun inilah pertempuran yang paling riil, tepat di bawah hidung kita sendiri tanpa disadari.


Pada hari pahlawan, selalu kita diimbau untuk sejenak mengheningkan cipta. tapi pada hari ini, maukah kita sejenak duduk diam, mengheningkan cipta, dan melihat peperangan di dalam batin? maukah kita turun tangan dan menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri? ataukah kita kembali melihat ke balik awan, menunggu sang pahlawan yang tak kunjung tiba?



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Tuesday, October 10, 2017

sekedar puisi: papa, i'm sorry (24 september 2012)

 Pustaka Belajar     9:29 AM     Tak Berkategori     No comments   

Adalah senyummu yang meneduhkan.


adalah senyummu yang mendamaikan.


adalah senyummu pula yang menorehkan luka bagiku.


luka karena merindukanmu namun tak dapat kutemui.




Aku bahkan tak ingat,


kapan terakhir kali aku yang melukis senyum itu diwajahmu.


karena baru ku sesali hari ini,


hari ini,


harusnya dari dulu,


sebelum aku pincang dan terluka.


harusnya sebelum aku menjadi yang cacat hidupnya.


harusnya jauh., dan jauh., sangat jauh sebelum itu.


aku mengabdikan angan, mimpi, jiwa, dan ragaku, hanya untukmu.



aduh,


malu rasanya,


apa yang harus kulakukan untuk penyesalan ini.


jika ada tokok yang menjual pemutar waktu,


akan kuhabiskan hidupku untuk bekerja keras dan membeli pemutar waktu itu.


Ahh, terlalu bertele-tele.


maksudku,


Aku menyesal Ayah.


aku menyianyiakan kebersamaan kita,


yang harusnya menjadi kisah Ayah & Anak teromantis di dunia


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Curhat kecilku kepada penguasa negeri ini. (15 Desember 2012)

 Pustaka Belajar     8:34 AM     Tak Berkategori     No comments   

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan  yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh media yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya. narkoba, politik, uang, membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?



Di negeri permai ini, politik hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Para penguasa tidak pernah mencintai apapun yang mereka lakukan, mereka hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Mereka tidak mensyukuri berkah yang mereka dapatkan, mereka hanya ingin menghabiskannya. mereka enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan mereka. Kawan, inilah kenyataan politik memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, politik adalah persoalan kebiasaan. politik juga masalah prinsip. Bila kau terjun kedunia politik,  maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka, tapi kau suka bermuka kepada kuli kamera. Politik adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah. Tapi politik hanya akan menghancurkan generasi-generasi, dan membuat sengsara rakyat jelata. Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Jutaan orang lantang bersuara demi mendapatkan keadilan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penguasa. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan janji manis para penguasa. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama, dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Perjuangkanlah aspirasi rakyat layaknya seorang pemimpin yang tegas dan suci.


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sekedar Puisi; Anda Saja yang Beri Judul, saya pusing (31 Mei 2011)

 Pustaka Belajar     8:10 AM     Tak Berkategori     No comments   

Hingga sampai di sini,


di tempat ini, tepat aku berdiri.


akulah yang berjalan kesini sendiri.


sampai disini , akulah yang membimbing diriku sendiri.


meski tulisanku tak selalu indah,


tapi itu tak pernah menyesatkan jalan yang kulalui.


kadang tak tentu arah, memang,


kadang tak seharusnya,


tapi banyak yang kutemukan dalam sana.


aku banyak menemukan di tempat yang seharusnya.


keyakinanlah yang membawa aku kesini.


aku yang mereka sebut-sebut orang kuat.


yah,


tak banyak yang bisa seperti diriku.


aku 1,


kau juga demikian,  mungkin!


tapi aku yakin , aku 1,


gabungan karakter yang bersemayam dalam pikiran,


itulah yang tak bisa ditebak.



maafkan, maaf bila aku selalu buat kalian entah apa namanya.


aku hanya membela diri.


berusaha menjadi orang yang pede,


bisa dibilang tanda kutip, tapi itu dulu.



Sekarang, ada waktunya membayar perbuatanku.


meski aku tak pernah minta maaf kepadanya,


tapi maksud hati demikian.


entah, kapan bisa kugerakkan hati yang lumpuh ini.


angin saja tak cukup mampu goyahkan,


aku habiskan hidup dengan mengumpulkan impian dikepalaku.


mengumpulkan kemalasan dalam sifatku ...


juga mengumpulkan proposal jati diri dalam Sanubariku ...


harap kelak kutemukan jawabannya ...


meski melalui cintaku pada seekor kucing putih berumur 3 bulan ...


atau mungkin diriku yang dikenal dengan velg kuning,


atau juga kecintaanku terhadap jam 8:30 berangkat kesekolah,


semoga kutemukan jawabannya.


bukan semoga,


tapi akan kutemukan jawabannya.


1 lagi, kelak aku akan tahu, dan temukan jawabannya,


mengapa aku hidup dan besar bersama nenek yang pikun,


ini semua kontradiksi.



ohh merpati, izinkan aku menjadi pujangga malam ini saja.


kan kuterbangkan kau dengan pesan hati,


ada seonggok perasaan di dalam sini,


yang kian kusembunyikan dalam semak hati.


kian tenggelam dalam rawa yang gelap.


kian berlumut.


maaf, agak lebay.


tapi ini memang jujur,


ada perasaan itu.


tapi kuanggap masih abal-abal,


kenapa? aku juga tak tahu,


dan tak mau tahu, dan tak mau diberitahu,


biar kelihatan pura-pura tak tahu saja ...


aku bukan spiderman dengan topeng dan bisa menggantung di mana-mana dengan topeng,


tapi aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan.


mencarimu bila kau ada,


dan memikirkanmu bila kau tak ada.


aneh bukan ...


tapi biarlah ia tetap tumbuh dalam rawa,


bernafas dalam semak,


semoga ia tak keluar menjadi monster yang mengatakan cinta padamu.


dia lebih tenang di dalam sana,


biar dia tua dan melegenda,


kalau dia telah legenda,


pasti kau akan tahu,


kalau Aku suka Padamu.

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Newer Posts Home

About Me

Pustaka Belajar Merupakan Media pembelajaran yang di desain dengan menyajikan Opini, Artikel, wawasan tentang seni, perpustakaan, dan juga membagikan beragam bacaan dalam format E-book (PDF) yang bisa segera di akses dan di unduh. Pustaka belajar ini dimotivasi dalam meningkatkan budaya literasi dan membaca. selain itu, kami juga menerima buku dengan Format PDF yang bisa dikirim ke kontak kami. jadilah bagian Pustaka Belajar dalam meningkatkan budaya membaca di Indonesia.

Popular Posts

  • Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowling (Versi Bahasa Indonesia)
    Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowling download

Blog Archive

  • ▼  2017 (37)
    • ▼  October (37)
      • A Tale of two cities - Charles Dickens
      • Lord Of The Flies - William Golding
      • 37 Masalah Populer - H. Abdul Somad Lc., MA.
      • Dunia Sophie - Jostein Gaarder
      • Analisis Kebudayaan
      • 36 Strategi Suntzu
      • Detik-Detik Hidupku Hasan Al-banna
      • Sketsa The Anthology Of Love
      • Mantra - Deddy Corbuzier
      • Che Guevara & Revolusi Kuba - Mike Gonzalez
      • La Tahzan - DR. 'Aidh al-Qarni
      • Filosofi Kopi - Dewi Lestari Dee
      • The Secret - Rhonda Byrne
      • Madilog - Tan Malaka
      • Terpesona di Sidratul Muntaha - Agus Mustofa
      • Sejarah Tuhan - Karen Armstrong
      • Akar (Supernova) - Dee Lestari
      • 4 Daftar buku yang dipublikasi oleh Bibliotek Alex...
      • Senja, Hujan & Cerita yang telah usai - Boy Candra
      • Art of Drawing The Human Body (Fine Art)
      • The Adventures Of Sherlock Holmes (Versi Bahasa In...
      • Gadis Pantai - Pramoedya Anata Toer
      • Bumi Cinta - Habiburrahman El-Shirazy
      • Metodologi Penelitian - Prof.Dr. Suryana, M.Si
      • Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua - Boy Candra
      • Sebelas Patriot - Andrea Hirata
      • Setelah Hujan Reda - Boy Candra
      • Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowlin...
      • Hujan - Tere Liye
      • Sang Pemimpi - Andrea Hirata
      • World Of Writing - Share of Experience
      • Monolog diri.
      • Sejarah Sepak Bola & Nasionalisme Kosmopolitan
      • Hero Recruitment
      • sekedar puisi: papa, i'm sorry (24 september 2012)
      • Curhat kecilku kepada penguasa negeri ini. (15 Des...
      • Sekedar Puisi; Anda Saja yang Beri Judul, saya pus...

About Me

Pustaka Belajar
View my complete profile

Popular Posts

  • Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowling (Versi Bahasa Indonesia)
    Harry Potter And the Deathly Hallows - J.K. Rowling download

Total Pageviews

Copyright © Pustaka Belajar | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates